Friday, February 16, 2007

"Bulatan 32B" di Motor Plus

Dalam Motor Plus No. 416/VII, edisi Sabtu, 17 Februari 2007, ada rubrik "Cewek Knalpot" tepat di pojok kanan atas halaman 21. Sosok yang dimuat adalah seorang gadis berusia 22 tahun bernama Oktadiansari. Gadis ini berpose membelakangi kamera, tapi wajahnya menoleh menghadap kamera. Bagian bawah tubuhnya dibalut celana amat pendek berwarna cokelat, sedangkan bagian atas dibalut tank top pendek hitam. Bagian pinggul, pinggang, pundak, sebagian punggung, dan pahanya lebar terbuka.

Kenapa mesti saya deskripsikan penampilan Oktadiansari ini? Foto "seksi setengah panas" Okta ini membangun satu wacana yang utuh dengan kata-kata yang digoreskan penulis rubrik ini, Eka, yang membubuhkan kata-kata berasosiasi seksual. "Sambil berpegangan erat di dingin malam...","pose seksi", dan "'dua bulatan' 32B miliknya" jelas mengarah pada gagasan-gagasan seksualitas yang sangat kentara. Diksi ini, seperti saya katakan tadi, membangun satu wacana eksploitasi seksualitas dari seorang Oktadiansari yang dilakukan oleh penulis Motor Plus saat ditampilkan bersama sebuah foto yang dapat dikatakan 'sangat seksi' alias seronok. Eksploitasi seksualitas ini tampaknya dilakukan secara sengaja oleh Motor Plus, yang pembaca sasarannya tentu saja laki-laki muda (Motor Plus menyapa pembacanya dengan sebutan "Brother") pemilik, pengendara, atau penyuka sepeda motor. Ideologi pragmatis 'asal laris' secara nyata masih dianut oleh produsen Motor Plus ini.

Yang saya ingin garis bawahi dari fenomena ini bahwa dalam era persaingan media massa yang sangat ketat, koran dan tabloid kerap menghalalkan segala cara untuk melakukan eksploitasi selera terendah dalam masyarakat demi mengejar target profit. Eksploitasi di segi bahasa pun termasuk di dalamnya. Ini tentu dapat digolongkan sebagai komodifikasi selera rendah dan seksualitas oleh media.

Saat menelusuri halaman lain Motor Plus, saya menemukan bayak kata dan frasa yang sama sekali mencerminkan eksploitasi terhadap selera terendah yang bersifat massal itu. "Kamsudnya", "ngebacot", "nemplok", "nyemplak", "penyemplak", dan "nyeruduk" adalah beberapa contohnya.

Satu gagasan kecil dari fenomena dipilihnya frasa "bulatan 32B" oleh penulis Motor Plus untuk digunakan di artikelnya dan dibiarkannya frasa itu muncul oleh editor adalah bahwa kita dapat melihat posisi dan fungsi sebuah media dalam masyarakat melalui analisis linguistik. Kita dapat menelaah apakah satu media berperan sebagai media yang mencerdaskan masyarakat, meluruskan yang tidak lurus, atau justru membengkokkan yang lurus. Beberapa media juga hanya ikut arus, tidak mencoba meluruskan yang tidak lurus. Ideologi media pun dapat kita kenali melalui bahasanya. Media seperti Motor Plus ini jelas bukan jenis media yang dapat dikategorikan sebagai lokomotif perubahan sosial atau agen perbaikan massa, melainkan sebagai satu tabloid yang hidup demi keuntungan semata dengan mengeksploitasi selera rendah dalam masyarakat.

Sayang.

Palmerah
7.45 Pagi
Jumat, 16 Feb. 2007

No comments: